Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
ReviewReviewReviewFeb 4, '08 3:36 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Travel
Author:Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat
Judul: Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona.
Penulis: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Cetakan Pertama 2007
Halaman: 230 halaman


Melihat judulnya saja, pembaca mungkin sudah bisa menebak kisah dengan latar belakang seperti apa yang akan tersaji. Kata “travelers” menjadi petunjuk yang cukup jelas untuk menggambarkan bagaimana serunya perjalanan para tokoh dalam mengarungi sebuah perjalanan.
Cerita tentang perjalanan di negeri orang dalam kondisi ber-backpacker ria rasanya sekarang ini menemukan momentumnya. Cerita-cerita orang-orang yang bermodal sedikit uang tapi banyak nekat untuk menempuh perjalanan jauh memang bukan hal baru.
Namun setidaknya di benak publik pembaca saat ini masih terngiang-ngiang kisah perjalanan seorang anak Belitong bertajuk Edensor karya Andrea Hirata. Inilah yang saya sebutkan kisah-kisah perjalanan anak bangsa menjelajah negeri orang menemukan momentumnya saat ini, termasuk kisah dalam buku Travelers’ Tale ini.
Travelers’ Tale menyajikan bahasa yang ringan dan segar, tak rumit. Travelers’ Tale berkisah tentang empat orang sahabat sejak SMA. Namun ketika meniti karier, nasib membawa mereka tersebar ke berbagai penjuru dunia. Empat orang sahabat ini terdiri dari dua perempuan dan dua lelaki, yaitu Farah, Retno, Jusuf, dan Francis.
Uniknya dari novel ini, penulis novel juga terdiri dari empat orang, masing-masing pribadi dan kisah penulis diwakilkan oleh satu tokoh. Dua dari empat penulis sudah bisa masuk dalam kategori penulis sukses. Adhitya Mulya sukses dengan novel Jomblo dan Kejar Jakarta, Ninit Yunita juga sukses dengan novel bertajuk Heart dan Mendadak Dangdut. Dua nama setelahnya, Alaya Setya dan Iman Hidajat, belum terlihat jejaknya selain lewat novel Travelers’ Tale ini.
Terlalu tipis rasanya, novel yang ditulis bareng oleh empat orang ini, tapi jumlah halaman ceritanya hanya sampai hitungan 222. Pasti masih banyak kisah yang bisa diceritakan lebih detail, namun terabaikan atau mungkin memang dibatasi.
Bayangkan saja detail yang bisa diungkapkan dengan posisi masing-masing tokoh berada di berbagai belahan dunia. Tokoh Francis di Amerika Serikat, Jusuf di Pantai Gading, Farah di Vietnam, Retno di Denmark. Semuanya akan menuju satu titik, Spanyol, tepatnya Kota Barcelona.
Keempat sahabat ini mengemban misi mereka sendiri-sendiri. Misi-misi itu tidak rumit-rumit amat: mengungkapkan isi hati.
Tokoh Farah bertekad menahan niat Francis untuk menikah dengan perempuan Spanyol; tokoh Retno menolak cinta Francis berkali-kali dan berharap pernikahan Francis sukses; Francis tak tahu cinta Farah dan mengejar Retno terus; Jusuf cinta mati dengan Farah dan menganggap ini kesempatan baik untuk mendapatkan cintanya.
Jika diamati benar-benar misi-misi itu, akan terlihat posisi para pria dalam novel ini sebetulnya ditentukan oleh para perempuannya, benar-benar chicklit.
Bisa saja pembaca berpikir sebaliknya karena gara-gara dari semua ini adalah salah satu tokoh, Francis, yang memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan Spanyol di Barcelona.
Travelers’ Tale benar-benar unik dengan tampilannya sebagai novel yang berkisah tentang perjalanan masing-masing tokoh. Kisah-kisah perjalanan itu diselingi dengan kiat-kiat untuk melakukan perjalanan jauh dengan hemat dan memuaskan tentunya.
Perjalanan Jusuf dari Pantai Gading di benua Afrika yang penuh gejolak perang dan akhirnya “hinggap” di Barcelona benar-benar kisah perjalanan unik. Jusuf harus menjalani kegilaan tersendiri, penuh kenekatan, namun perjalanan penuh jerih payah itu berakhir gemilang.
Kisah perjalanan tokoh lain rasanya lebih banyak dilingkupi oleh pergulatan batin terhadap misi masing-masing. Ketiga tokoh selain Jusuf ini menjalani perjalanan sebagai backpacker dengan cukup nyaman dan tenang, kecuali urusan keuangan tentu yang bikin rumit. Yang sangat menarik adalah bagaimana para tokoh menjalani setiap perjalanan itu dengan keceriaan sebagai backpacker: irit tapi meriah.
Pekerjaan para tokoh ini malah rasanya jauh lebih rumit daripada tujuan mereka untuk bertemu di Barcelona. Ada yang bekerja di KBRI, jadi pianis, pengawas lapangan untuk proyek, dan sales audit. Semua pekerjaan itu tidak di Indonesia.
Pembaca yang ingin melakukan perjalanan ke Eropa sangat dianjurkan untuk membaca buku ini. Buku ini bisa menjadi semacam Lonely Planet, buku wajib para pencari petualangan di negeri orang—dengan segala rekomendasi tempat-tempat murah namun nyaman untuk dijadikan penginapan, begitu juga dengan rekomendasi lokasi-lokasi wisata di berbagai tempat di Eropa.
Jika ada bagian kedua dari buku Travelers’ Tale ini, alangkah baiknya jika dikupas habis jalur-jalur wisata dalam negeri dengan segala keunikannya dan rekomendasi tempat-tempat menginap yang murah dan nyaman. Setidaknya, jika memang ada, buku itu akan menunjang program pemerintah Visit Indonesia Year 2008.











meitania wrote on Feb 6, '08
Gw udah baca ni bang..
lumayanlah...jadi ngebayangin klo kita keliling eropa jg..
Tapi walopun dgn cara backpackeran yang ngirit, kapan gw bisa kesana ya? he....
jobpalar wrote on Feb 6, '08
Kata Andrea Hirata: Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi mu (Arai)
gitu mbaaak, jadi jangan patah semangat :D
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
0 out of 5 stars